Arti Semangat HIdup

Kutatap pisau itu dengan mata menjijikkan. Kuayunkan pisau itu ke arah tanganku. Tanganku terada perih, kepalaku pening dan pandanganku mulai kabur. Hingga kurasakan aku tak kuat lagi untuk menopang tubuhku…

2 Minggu Kemudian..
Kubuka kedua kelopak mataku. Kepalaku masih berdenyut denyut. Tempat ini… Semuanya putih. Apa aku telah ada di surga?. Batinku. Tiba tiba, kurasakan tanganku berdenyut denyut. Aku menoleh, dan mendesah. Lagi lagi Infus dan Rumah Sakit. Kenapa aku tak Mati saja?.

Kulepas infus itu dari tanganku. Kubangunkan tubuhku dengan paksa. Dengan langkah sempoyongan, kubawa diriku semakin jauh dari tempat ini. Aku benci pada kehidupanku…

Bruk… Aku menabrak seseorang. Aku menatapnya. Tak ada sehelai rambut pun di kepalanya. “Maaf”. Ucapku lirih. Dia hanya tersenyum padaku.

Di Taman Rumah Sakit.
“Namamu siapa?” Tanyanya padaku. “Aku Dera. Kamu?”. “Aku Lisa”. Jawabnya. “Kamu sakit apa?” Tanyaku. “Leukemia stadium 3” Ujarnya. Aku terkejut dengan jawabannya. “Kalo kamu, sakit apa?”. Tanyanya padaku. Aku menghela nafas dan berkata lirih. “Percobaan bunuh diri”.
Dia terkejut dengan jawabanku. “Kenapa?”. “Karena aku benci sama hidupku. Udah nggak ada gunanya hidup di dunia ini” Jawabku dengan air mata yang menetes. Dia tersenyum samar. “Kamu nggak boleh ngomong gitu Der. Gimana pun juga, ini takdir tuhan”.
Aku menoleh ke arahnya dan berkata. “Tapi, aku nggak punya alasan apapun buat hidup Lis.. “. “Kamu harusnya bersyukur Der, Kalo tuhan masih ngasih kamu kehidupan. Lihat aku. Aku sakit.. Dan mungkin umurku nggak lama lagi. Kamu nggak tau gimana perasaanmu, saat kamu tau bahwa kamu sekarat. Sedangkan, kamu masih sayang untuk meninggalkan. dunia ini” Ujarnya.

Aku tertegun dan terdiam. Tiba tiba, Lisa berdiri. Aku menatapnya dengan tanya. “Aku mau masuk Der. Tolong, pikirin apa yang aku bilang tadi. Kalo kamu nyari aku, aku di kamar Mawar Nomor 27″. Aku hanya mengangguk, saat Lisa mulai menjauh dari tempat ini. Aku hanya terdiam memikirkan apa yang dikatakan Lisa.

Aku pun beranjak dari tempat dudukku. Aku berjalan dan mulai mencari kamar Lisa. Mawar Nomor 27. Akhirnya ketemu. Aku pun mendorong pintu. Namun, aku mendengar suara tangis dari dalam. Aku mendekat. Kulihat Lisa sedang tertidur, dengan wajah yang sangat pucat. Wanita di sampingnya memeluknya sambil menangis.
Apakah..?. Kulirik komputer di samping Lisa. Di sana tak ada lambang detakan jantung. Hanya ada garis lurus. Aku menggeleng.. dan kakiku mulai mundur. Aku langsung berlari ke luar.

Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Lisa pergi secepat ini?. Saat ini aku baru berfikir, jika ini semua adalah takdir tuhan. Tak mungkin manusia diciptakan, tanpa sebuah arti. Aku beruntung, masih diberi kesempatan untuk hidup. Kutanyakan pada diriku sendiri. ‘Kenapa aku ingin mati, di saat banyak orang di luar sana berjuang mati matian untuk tetap hidup?’. Baru Kusadari bahwa setiap manusia, harus memiliki semangat Hidup”.

Tinggalkan komentar